Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Lembar Jum'at

Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Edisi : 36/VI, 19 Jumadil Akhir 1417, 01 Nopember 1996.

Menghormati yang Lebih Tua

Suatu ketika, Ali radiyallahu'anhu berangkat ke masjid hendak menunaikan shalat fardhu. Di tengah perjalanan, ia terhadang oleh seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih. Kakek yang sudah renta itu berjalan perlahan tetapi mengambil posisi di tengah, bukan di tepi. Padahal jalan yang mereka lalui tidak terlalu lebar, sehingga jika sahabat Ali berusaha mendahului si kakek, ia khawatir akan menabrak, atau setidaknya menyerempet.

Yang membuat Ali bingung, karena ia saat itu sudah hampir terlambat mengikuti shalat berjamaah. Jika tidak berjalan cepat dengan mendahului si kakek, ia akan terlambat sampai di masjid. Tetapi karena si kakek tidak juga mengubah posisinya dan juga kecepatannya, akhirnya memaksa Ali untuk bersabar. Dugaannya pun benar, ketika sampai di masjid ia telah tertinggal shalat berjamaah.

Pepatah yang mengatakan 'yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua' adalah pepatah bagus yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Apa yang dilakukan sahabat Ali mungkin tidak akan dilakukan oleh orang lain.

Betapa hormatnya ia kepada kakek yang berjalan di depannya. Walaupun ia tahu sang kakek tersebut berjalan lambat tidak untuk pergi ke masjid, tetap ia sangat menghormatinya. Beliau pun tidak berkeinginan mengganggu dengan mendahuluinya, khawatir sang kakek terkejut atau terdesak jalannya karenanya.

Bila terhadap orang yang tak dikenal saja begitu, semestinya kita lebih hormat lagi terhadap orang tua yang kita kenal, atau bahkan orang tua kita sendiri. Tetapi kenyatannya, menghormati orang tua sendiri sering kali tidak lebih mudah dari pada menghormati orang tua lain.

Justru terhadap orang tua sendiri, kakek dan nenek sendiri, yang sering bertemu, sering terjadi perbedaan pendapat, perbedaan persepsi, perbedaan kebiasaan yang mengakibatkan sering terjadi kesalahpahaman. Akhirnya percekcokan juga yang terjadi. Dan memang penyakit yang satu ini lebih mungkin menyerang mereka yang masih satu keturunan darah daging dibanding dengan orang lain.

Pepatah lain mengatakan, 'Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggalah.' Itulah pepatah yang menggambarkan betapa seorang anak seringkali tidak bisa membalas kasih ibunya yang diberikan ketika ia masih kecil. Tetapi justru dia membiarkan ibunya dalam kesendirian, kemelaratan atau kesengsaraan di hari tuanya.

Rasulullah saw menggambarkan hal ini dengan perbedaan yang cukup jauh. Setiap orang tua yang merawat dan memelihara anak-anaknya semenjak kecil, akan ikhlas karena memiliki pengharapan besar untuk masa depan anaknya. Tetapi anak yang memelihara orang tuanya yang sudah renta, seringkali kurang ikhlas karena berpengharapan agar orang tuanya tersebut cepat meninggal sehingga terbebaslah tugas pemeliharaannya.

Benar sekali bahwa merawat orang tua yang sudah renta itu teramat berat. Kalaupun seseorang bisa melaksanakan kewajiban ini, masih banyak yang sekadar merawat asal menunggu ajal menjemput. Ada harapan, toh merawat hanya sebentar, bukankah orang tua ini sudah dekat ajal?

Niat seperti ini belum bisa dikatakan ikhlas seratus persen. Masih ada yang perlu dibenahi. Untuk melatih meningkatkan keikhlasan, semestinya kita mencoba berpikir, bersiap-siap untuk melayani dan merawat orang tua kita walau ia akan hidup seratus tahun lagi, walau kita akan meninggal lebih dahulu dari pada mereka. Harapan bahwa perawatan yang kita lakukan akan segera berakhir, harus dihapus. Kita bersiap melakukan penghormatan, pelayanan, dan perawatan sampai kapanpun. Dan ini sungguh bukan pekerjaan ringan.

Tidak sedikit orang tua yang kondisinya sudah payah, sehingga berperilaku layaknya seorang bayi. Buang air kecil dan besar sembarangan, harus digendong ke mana ia mau pergi, kebiasaannya yang cerewet dan suka marah, atau yang tak pernah lagi ingat mana anaknya dan mana bukan, sudah makan atau belumkah ia, dan sebagainya. Sungguh tak ada orang yang akan kuat menghadapi ujian merawat orang tua seperti ini kecuali hanya mereka yang bisa ikhlas.

Orang tua yang sehatpun, tak ada yang tidak membawa masalah. Yang namanya perbedaan pendapat hampir selalu ada. Hal ini sangat wajar, mengingat perbedaan satu atau dua generasi ini sudah cukup memberikan perbedaan yang sangat jauh.

Masing-masing generasi pasti memiliki pola pandang yang berbeda. Begitu juga luas tidaknya wawasannya, cara berpikir hingga kebiasaan-kebiasaannya. Semua ini terbentuk dengan dipengaruhi kondisi lingkungan di masa hidupnya masing-masing. Mereka yang hidup di zaman perang dengan mereka yang hidup di zaman merdeka jelas memiliki pola pikir yang berbeda. Mereka yang hidup dalam kondisi melarat dan sengsara pun membentuk prinsip hidup berbeda dengan anaknya yang dibesarkan dalam kondisi berkecukupan. Kondisi pergaulan masyarakat, juga kebutuhan-kebutuhan, hingga gaya hidup yang berbeda di antara dua atau tiga generasi ini membentuk kepribadian yang berbeda pula. Maka sangat wajar, jika perbedaan-perbedaan ini sering menjadi bibit perselisihan antara anak dan orang tua. Jika masing-masing ingin menang, maka kekacauanlah yang terjadi. Karena sudah lazim pula bahwa orang tua memiliki pola pemikiran kolot dan sulit berubah. Orang muda yang berkeinginan mengubah cara berpikir orang tuanya, hanya akan sia-sia, kalaupun bisa itupun hanya sedikit, hanya luar-luarnya saja.

Mereka yang sudah uzur, yang sudah terbentuk puluhan tahun cara berpikirnya, tidak akan bisa berubah hanya dengan beberapa tahun hidup di alamnya orang muda sekarang. Mereka rata-rata sudah tidak bisa lagi menerima informasi-informasi baru yang sudah sangat maju, berbeda, dan terasa aneh bagi mereka.

Tak ada jalan lain bagi kaum muda, kecuali mengalah kepada kaum tua. Mengalah bukan berarti harus mengikuti pendapat mereka. Tetapi yang muda harus bisa mengerti, dan memahami keadaan kaum tua. Jika ada perbedaan pendapat, hendaklah mengalah dalam perdebatan. Carilah cara untuk berbuat sesuai kehendak sendiri tanpa menyinggung pendapat orang tua.

Kadang kala hal ini memerlukan diplomasi, mengingat kaum tua seringkali memiliki sikap kolot dan tak mau kompromi, tak mau tahu pendapat kaum muda. Pendeknya, kaum muda harus bisa memberi pengertian sesuai dengan kemampuan berpikir kaum tua. Harus bisa berbicara sesuai dengan batas kemampuan bicara kaum tua, sebatas luasnya wawasan berpikir mereka.

Satu hal penting lagi yang harus dimengerti kaum muda adalah bahwa mereka tetap harus menghargai kaum tua sebagai manusia. Walaupun mereka bukan lagi manusia produktif, mereka tetap memiliki harga diri. Yang jika ini tidak dihargai sebagaimana mestinya, mereka akan tersinggung dan membawa dampak negatif.

Kaum tua yang tidak dihargai bisa berubah menjadi cerewet, pengomel, pengatur, atau bertingkah laku aneh-aneh meminta perhatian dari sekitarnya. Gejala ini persis seperti pada anak-anak yang juga tidak dihargai orang tuanya.

Menghargai harga diri kaum tua, seperti apakah itu? Yang utama adalah penghormatan. Ini adalah kebutuhan utama kaum tua. Setiap orang tua selalu merasa memiliki kelebihan dibanding anak-anaknya, mengingat dia lebih kenyang pengalaman baik suka maupun duka. Sebodoh-bodoh apapun orang tua dibanding anaknya, sudah pasti perasaan seperti ini ada pada mereka. Sudah pasti ada kelebihan yang tidak dimiliki sang anak.

Maka wajiblah bagi kaum muda, untuk memberi penghormatan selayaknya bagi mereka. Ingatlah nasehat dalam surat Al Israa' 23, yang artinya," ...Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Inilah standar penghormatan kaum muda kepada orang tua. Bukan main beratnya. Marilah kita instropeksi diri, berapa kali kita menyepelekan orang tua kita? Menghina pendapat-pendapatnya yang terasa konyol? Berapa kali pula kita berkata kasar dan keras hanya karena mereka sangat susah diberi pengertian? Atau kita merasa malu memperlihatkan mereka di muka umum karena keadaannya?

Ingatlah bahwa mereka tetap manusia yang memiliki harga diri. Hormatilah pendapat-pendapatnya sekonyol apapun pendapat mereka. Berilah mereka kesempatan untuk melakukan keinginan-keinginannya sejauh itu memungkinkan. Beri mereka kesempatan mewujudkan harapan-harapannya.

Akhirnya, untuk menjaga istiqamah kelurusan niat kita, teruslah mengingat janji-janji Allah akan keutamaan-keutamaan merawat orang tua seperti ini. Rasulullah saw ditanya tentang peran kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR Ibnu Majah).

Seseorang datang kepada Rasulullah dan mengemukakan keinginannya untuk berjihad. Beliau bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabipun bersabda, "Untuk kepentingan merekalah kamu berjihad." (Muttafaq 'alaih).


PERJUANGAN KEMERDEKAAN

Perjuangan Kemerdekaan Bulan Nopember selalu dikaitkan dengan sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo ketika mereka berhasil mengusir Sekutu lima dasawarsa lalu. Alangkah indah mengenang masa itu, di mana seluruh lapisan masyarakat bersatu-padu bersepakat untuk mengorbankan apa saja demi terjaganya kemerdekaan.

Perasaan serupa barangkali sekarang ini juga sedang dirasakan oleh saudara-saudara kita di banyak belahan dunia, yang belum juga berhasil membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Di antara yang paling menonjol adalah di Bosnia dan Chechnya, dan mungkin juga segara akan bermunculan negara-negara lain yang sekarang belum kelihatan geliatnya. Di Russia saja masih banyak wilayah Muslim yang belum merdeka, seperti di sekitar Laut Kaspia dan di sepanjang Sungai Volga. Di Ukraina juga, di pinggir Laut Hitam. Di Cina ada Xinjiang dan Gansu. Di Iraq-Iran-Turki ada Kurdi. Di Yugoslavia ada Kosovo, di India ada Kashmir. Dan lain-lain yang tersebar di berbagai benua.

Melihat peperangan di negara-negara itu tak perlu heran, kenapa di zaman kemajuan kok masih senang berperang. Mereka berjuang mempertahankan harga diri dan agama, sebagai bukti cintanya kepada ajaran Nabi. Di tempat mana keleluasaan beribadah dan syi'ar Islam terhalang, niscaya akan muncul pertentangan. Apalagi bila ummat Islam sampai dijadikan obyek tekanan.

Justru semangat mereka ingin bisa bebas itu layak untuk dipuji dan ditiru. Jangan-jangan ummat Islam yang berada di kawasan lebih tenang, justru lupa akan nilai-nilai kejuangan dan perjuangan, bila tidak pernah menengok perjuangan saudara yang lain. Kondisi mereka mirip-miriplah dengan kondisi ummat Islam lima puluh tahun lebih yang lalu. Kalau saja pada saat sulit seperti itu ummat Islam patah semangat, tentunya perubahan menuju kebaikan tidak akan berlangsung.

Padahal sebenarnyalah, hidup tak ubahnya dengan perjuangan. Hidup tidak lagi indah bila semuanya hanya serba mudah. Anak-anak muda akan jadi cengeng bila budaya kerja keras tidak pernah mereka alami. Ketahanan mereka terhadap perubahan situasi dan cuaca akan kurang. Dan itu berarti, bila suatu saat terjadi perbenturan, mereka akan tunduk duluan.

Militansi, perlu terus dimunculkan. Kehilangan kekayaan ini, ummat Islam tidak akan bisa bersaing dengan musuh-musuhnya. Militan berarti memiliki kesiapan untuk melakukan apa saja demi idealisme, sekalipun harus banyak sekali berkorban. Militan juga berarti siap menanggung risiko tanpa harus mengorbankan orang lain. Militansi terwujudkan pada sosok-sosok yang tidak gampang menyerah, bahkan tidak pernah menyerah hingga tujuan tercapai. Orang-orang militan itulah yang kini tetap bertahan di tengah gempuran, di berbagai medan peperangan. Mereka sangat jauh berbeda dengan saudaranya di tempat lain, yang nampak loyo karena dimanjakan oleh keadaan.

Untuk edisi ini, Anda pengunjung yang ke :



Edisi yang lain