Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Lembar Jum'at

Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Edisi : 35/VIII, 02 Rajab 1419, 23 Oktober 1998.

TOLAK, Pemimpin Anti Tuhan

Pemimpin-pemimpin sekuler dan anti Tuhan telah terbukti membawa kehancuran. Tidak ada alasan memilih mereka, Tinggalkanlah!

Dalam al-Qur'an Allah swt berfirman: "Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan." (QS.Ali Imran:137).

Beberapa ahli tafsir menyatakan, yang dimaksud dengan sunnah-sunnah (sunan) dalam ayat tersebut adalah sunnatullah, hukum sebab akibat. Sebagaimana ahli tafsir yang lain mengimplikasikan maknanya sebagai hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka atau bencana, yang ditimpakan kepada kaum-kaum di masa lalu, karena mendustakan para rasul. Pemaknaan ini (bisa jadi) merujuk kepada statemen selanjutnya, di mana setelah ketengahkan wacana sunnah-sunnah(sunan), ayat tersebut kemudian menyinggung al-mukazdzdibin (orang-orang yang mendustakan). Pendapat yang pertama memandang sunan sebagai konsep, sedangkan yang kedua memandangnya dari sisi sunan sebagai fenomena.

Namun dari akumulasi dua pendapat di atas, toh setidaknya secara independen ayat tersebut memang telah meyiratkan sebuah ajaran mendasar, bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia ini, hendaknya kita senanatiasa berkaca kepada sejarah(masa lalu) ketika kita berkaca kepada sejarah, secara tidak langsung kita sedang berguru kepada pengalaman-pegalaman. Karena sejarah(masa lalu) benyak membuat beragam nilai, yang darinya kita bisa ambil banyak peajaran untuk menghadapi masa kita sekarang ataupun masa depan. Dan (khusus) dalam konteks ayat di atas, Allah menyuruh kita agar berkaca kepada 'sejarah buram' pengalaman-pengalaman buruk : "Berjalanlah di muka bumi, dan lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan..."

Sementara dalam perspektif para sejarawan sendiri, termasuk diantaranya Ibnu Khaldun, konon ayat di atas menyiratkan sebuah konsep mendasar, yaitu tentang (adanya) pola sejarah. Bahwa di dalam suatu peristiwa sejarah, di dalamnya(pasti) melibatkan sebuah pola tertentu. Maksudnya, antara satu peristiwa sejarah dengan peristiwa sejarah lain, meskipun (mungkin) berbasis pada sebab-sebab berbeda, akan tetapi(pastilah) mempunyai pola yang sama. Khusus dalam kontek ayat di atas, secara mendasar sepertinya Allah mengemukakan sebuah pola, bahwa kehancuran suatu kaum disebabkan mereka telah melenceng dari jalur-jalur kebenaran. Bahwa banyak ummat di masa lalu, yang menerima malapetaka dari Allah dikarenakan mereka mendustakan para rasul. Al-Qur'an banyak menceritakan bagaimana kehancuran yang menimpa kaum 'Ad , kaum Tsamud, kaum Fir'aun, atau Bani Israil, yang kesemuanya disebabkan pendustaa mereka atas kebenaran, mendustakan rasul-rasul yang diutus Tuhan kepada mereka.

Tanggal 16 Agustus silam, sewaktu dinobatkan sebagai Presiden, Soeharto memproklamirkan berdirinya Orde Baru yang dipimpinnya. Dalam pidatonya ia menyatakan bahwa Orde Baru lahir sebagai koreksi terhadap Orde Lama yang telah banyak melakukan penyimpangan. Apa yang terjadi kemudian?

Tanggal 21 Mei yang silam, sejarah kembali terulang. Orde Baru pimpinan Soeharato tumbang. Penyebabnya? Tidak berbeda dengan Orde Lama, yaitu penyimpangan. Apa bedanya? Bahkan muatan penyimpangan Orde Baru lebih parah dibanding Orde Lama. Kalau Orde Lama adalah kehancurannya, misalnya, meninggalkan hutang luar negeri (cuma) 2,5 milyar dolar, maka Orde Baru malah 200 milyar dolar lebih! Di sini kita lihat, tumbangnya dua orde tersebut, ternyata masing-masing mempunyai pola sejarah yang sama, Bahwa kehancuran keduanya disebabkan tingkah laku menyimpang, melenceng dari jalur kebenaran, oleh manusia-manusia yang berperan di dalamnya.

Kenapa kaum Fir'aun dibinasakan oleh Allah, secara historis setidaknya bisa kita lihat, bahwa pembinasaan tersebut merupakan bala'(bencana) akibat mereka telah membangun secara kental sebuah struktur kemasyarakatan yang menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan, bahkan ketuhanan. Setidaknya ada empat pilar kemasyarakatan kaum Fir'aun ketika itu, yang kiranya bisa menjadi tolok ukur kepada indikasi tersebut. Pertama, Fir'aun penguasa otoriter yang telah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Dia tidak mau mengakui Musa as dan Harun as. Ia tidak mau percaya bahwa Musa dan Harun adalah utusan Tuhan Yang Maha Tunggal. Dalam pemikirannya, Tuhan itu tidak ada. Tuhan adalah dirinya sendiri. Dengan klaimnya itu, di hadapan rakyatnya Fir'aun pun bersikap dan minta disikapi sesuai dengan status RketuhananS yang ia miliki. Kedua, Haman, ilmuwan sekaligus intelektual yang mencurahkan segala kapabilitas, keilmuan dan intelektualnya untuk kepentingan Fir'aun si penguasa, tanpa ia peduli apalah kepentingan tersebut bersesuaian dengan etiket keilmuan maupun intelektual yang dimiliki atau tidak. Ketiga, Qarun, konglomerat materialis nan kapitalis yang anti-Tuhan. Kunci-kunci gudang kekayaannya sampai (harus) dikalungkan di leher unta. Ia berpendapat bahwa kekayaannya adalah didapat dari jerih-payahnya sendiri, bukan dari Allah SWT,sehingga ia pun tak mau berderma kepada fakir miskin sebagaimana yang dianjurkan Musa dan Harun waktu itu. Keempat, Bal'an bin Baura', ulama penjilat yang tak mau berdakwah dan menyebarkan ilmunya kecuali kepada para orang kaya dan pejabat-pejabat kerajaan. Dalam sejarahnya, konon Bal'an paling alergi kalau harus berdakwah atau mengajarkan ilmunya di gubuk-gubuk kumuh milik orang miskin.

Pilar-pilar kemasyarakatan kaum Fir'aun di era Musa dan Harun itulah yang kemudian melahirkan pola sejarah kehancurannya. Dalam artian, wacana kebinasaan masyarakat Fir'aun menempati posisi keterkaitannya dengan apa yang telah Tuhan firmankan di atas (kehancuran suatu kaum disebabkan mereka mendustakan kebenaran) adalah salam konteks ia (pembinasaan tersebut) merupakan proses lebih lanjut yang mewujud pada sebuah peristiwa sejarah dari dosa-dosa masa lalu yang telah mereka perbuat.

Nah, dalam kerangka ini, barangkali ada baiknya secara pribadi kita bertanya, pilr-pilar kemasyarakatan model apakah yang telah mengimplikasikan pola sejarah kekacaubalauan(untuk tidak mengatakan kehancuran) negara kita sekarang ini? Mungkinkan sama, atau setidaknya mendekati kesesuaiannya dengan pilar-pilar kemasyarakatan yang melahirkan pola sejarah kehancuran kaum Fir'aun di atas? Wallahu a'lam.

Namun setidaknya, dengan mengamati fakta-fakta apa adanya di depan kita, bisa jadi asumsi tersebut benar adanya. Artinya, jika kita mau mengamati secara jeli bagaimana perilaku para elit kemasyarakatan yang ada di negri tercinta ini, sepertinya nampak jelas sekali bahwa beragam watak serta karakter utama dalam masyarakat Fir'aun dan Harun telah termanifestasikan kembali di abad dua puluh ini. Dan, sama persis, untuk negeri kita tercinta ini, kondisi tersebut pada gilirannya telah mengantarkan bangsa Indonesia menemukan sendiri 'pola kehancuran'-nya, yang sampai hari ini belum juga bisa tertata kembali.

Sabrur R. Soenardi


TEGUH PENDIRIAN DI TENGAH GEMPURAN

Surabaya, Al Qalam

Kini begitu mudah informasi di dapat. Sebanyak kepala dan gagasan orang, sebanyak itu pula informasi dapat kita peroleh.

Terserah kita mau diapakan semua itu. Boleh ada keraguan perihalnya, sinis, atau mungkin membelanya.

Tapi yang perlu dipegang adalah jati diri. Iniulah filter yang paling aman dari gempuran. Dibalik sajian selalu ada kepentingan-kepentingan penggempur itu. Tentu saja, seorang yang bertauhid kuat (muwahhid) akan selalu tenang, tidak goncang dalam menghadapi banyak bentuk input-input yang masuk ke dalam dirinya. Memenuhi tempurung kepalanya. Prinsip berpegang kepada tali iman dan aqidah kuat dipertahankan. Tidak ada plin-plan atawa pintat-plintut; kadang merah, hijau, putih, hitam dan seterusnya. Rasulullah saw bersabda: "Janganlah ada di antara kamu menjadi orang yang tidak mempunyai pendirian, ia berkata, 'Saya ikut bersama-sama orang, kalau orang-orang berbuat baik, saya juga berbuat baik, dan kalau orang-orang berbuat jahat saya pun berbuat jahat.' Akan tetapi teguhkanlah pendirianmu. Apabila orang-orang berbuat kebajikan, hendaklah engkau juga berbuat kebajikan, dan kalau mereka melakukan kejahatan, hendaknya engkau menjauhi perbuatan jahat itu." (HR.Turmudzi)

Beruntunglah orang mukmin sejati, tidak mudah terpancing dan terpengaruhi ajaran atau ajakan yang datangnya bukan dari Islam. Sekalipun menggoda. Prinsip kita bukan menang-kalah partai, kalau itu menyangkut partai-partai, apalagi sampai menjadi 'bebek-bebek' partai yang belum jelas jeluntrungnya. Siapa sudi? Kita hanya ingin berjalan bersama bergandengan tangan membentuk kesatuan yang kokoh, menyokong tegaknya kejujuran dan keadilan sejati. Insya Allah.


Edisi yang lain