Angan-angan Manusia
Dari Abdullah bin Mas'ud ra.
berkata, Nabi saw membuat garis persegi empat, dan ia
menggaris (pula) di tengah yang keluar dari padanya. Lalu ia
menggaris (lagi) beberapa garis kecil menuju ke garis yang di
tengah ini dari sampingnya, yang berada di tengah. Lalu beliau
bersabda, Ini manusia, dan ini ajalnya yang
mengelilinginya, dan garis yang keluar ini adalah cita-citanya,
Adapun garis-garis kecil ini adalah harta benda. Dan jika ia
terhindar dari yang ini, maka ia akan terkena yang ini.
(HR.Bukhari).
Rasulullah dalam hadits riwayat
Bukhari di atas menggambarkan posisi manusia, kematian dan
keinginannya dengan cara mengilustrasikannya dalam bentuk garis
dan gambar, agar mudah dipahami.

Penilaian Ibnu Hajar
Dalam menilai gambar yang dibuat oleh
Rasulullah tersebut ada perbedaan di kalangan ulama. Ibnu Hajar
al-Asqalani dalam mensyarahi hadits di atas, membuat beberapa
gambar yang masing-masing berbeda.
Yang pertama adalah bisa dijadikan
sandaran (dapat dipertanggungjawabkan), Sedangkan susunan
hadits di atas (pun) sesuai dengannya. Isyarat dengan kata-kata
Ini adalah manusia masuk ke dalam titik(garis persegi
empat yang di dalam). Isyarat dengan kata-kata Ini yang
keluar garis adalah angan-angannya sampai garis panjang
yang menyendiri. Adapun isyarat dengan kata Ini sampai
kepada garis-garis (garis-garis) ini disebutkan menurut
cara perumpamaan bukan dimaksud meringkas(garis-garis tersebut)
pada jumlah yang ditentukan. (fathul Bari XI:285)
Keterangan Ibnu Hajar ini diperkuat oleh
hadits lain yang masih diriwayatkan oleh Bukhari, tetapi melalui
sahabat Anas bin Malik ra, Nabi saw membuat beberapa garis lalu
bersabda, Ini adalah cita-cita dan ini adalah ajalnya.
Maka di antara keduanya itu ternyata ada satu garis yang
dekat.
Angan-angan
manusia itu ada dua macam: Pertama, angan-angan yang mungkin bisa
tercapai, yaitu yang ditunjuki oleh garis-garis yang berada di
luar lingkaran yang sekaligus sebagai pembatas. Kedua,
angan-angan yang tidak mungkin tercapai, yaitu yang ditunjuki
oleh garis-garis yang berada di luar lingkaran (kotak) yang
sekaligus sebagai pembatas.
Dari keterangan di atas, maka dapat
diambil pengertian bahwa cita-cita dan angan -angan manusia itu
jauh lebih panjang dari pada ajalnya. Sedang sesuatu yang
diangan-angankan itu biasanya tidak akan jauh dari yang namanya
harta dan umur panjang. Sudah menjadi fitrahnya, bahwa
masing-masing manusia memiliki keinginan dan harapan yang selalu
didamba-dambakan.
Dengan memiliki harta yang cukup, maka
ia akan memikirkan untuk mmpergunakannya, walaupun fisik dan
mentalnya sudah lemah atau berkurang. Rasulullah saw
bersabda, Anak Adam (manusia) itu tumbuh menjadi besar, dan
bersamaan dengan itu, akan tumbuh pula dua perkara yaitu: cinta
harta dan panjang angan-angannya. (HR.Bukhari).
Walaupun keinginan dan cita-cita
seseorang itu telah tercapai, namun kebiasaan manusia tidak akan
merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya. Maka ia akan
mencari dan mencari lagi harapan yang lain.
Pada umumnya, cita-cita dan kegemarannya
terhadap harta dan umur panjang ini sampai melampaui batas.
Sehingga dengan cara dan jalan apapun ia usahakan demi mencapai
tujuannya.
Keinginan yang kuat itu terkadang tanpa
disadari membuat banyak manusia menjadi lupa dengan kematian.
Allah swt memberi peringatan terhadap orang yang terlena oleh
kehidupan dunianya dengan firman-Nya,
Bermegah-megahan telah
melalaikan kamu, sampai (kamu) masuk ke dalam kubur.
(QS.At-Takatsur:1-2).
Dalam ayat lain dikatakan,
Biarkanlah mereka (di dunia
ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan
(kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat
perbuatannya). (QS. Al-Hijr:3).
Rasulullah saw. menggambarkan sifat
manusia dalam kecintaannya kepada harta benda dan
ketidakpuasannya sebagai berikut: Jika anak Adam memiliki
dua lembah dari emas, maka masti ia akan mencari lagi lmbah yang
keiga Tidak akan ada yang dapat mengisi perut anak Adam selain
dari pada tanah. Dan Allah akan memberi taubat (mengampuni)
terhadap orang yang bertaubat. (HR.Bukhari melalui sahabat
Ibnu Abbas ra).
Oleh karenanya, betapapun tingginya
angan-angan manusia terhadap harta dan kesenangan dunia ini,
namun jangan sekali-kali melupakan satu hal yang pasti, yakni
mati. Semua manusia akan merasakan mati, dan inilah yang menjadi
ujung dari kehidupan di dunia.Suka tau tidak semua harapan harus
dihentikan sampai disini.' harapan dan impian akan terpotong
begitu saja dengan datangnya kematian.
Allah swt berfirman:
Tiap-tiap yang bernyawa akan
merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. (QS.Ali Imran:185).
Hendaklah bagi seorang muslim, jangan
melampaui batas dalam hal cita-cita dan angan-angannya. Namun
bukan berarti mereka tidak boleh memiliki cita-cita lalu menjadi
orang kaya. Silakan bercita-cita, dan monggo saja bila ingin
menjadi orang kaya, tapi hendaknya jangan sampai kekayaan
membuatnya lupa ibadah kepada Allah swt.
Sungguh jelas, bahwa kekayaan tidak
menjadi sebab Allah menjadi marah. Yang dilarangdan yang
mengundang murka-Nyaadalah orang kaya yang sombong dan lupa
diri dengan kekayaannya. Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bertaqwa, kaya dan
tidak sombong. (HR.Muslim).
Hidup Sederhana
Dalam ajaran Islam, tidak tercatat bahwa
Rasulullah saw, itu orang yang kaya dengan harta benda. Tapi
tidak seorangpun yang berani mengatakan bahwa beliau itu orang
yang miskin. Kalau kita pikirkan, Rasulullah saw, itu adalah
seorang pemimpin ummat dan orang yang disegani. Apabila beliau
menghendaki sesuatu atau berdo'a kepada Allah ingin menjadi orang
kaya, tentu Allah akan mengabulkannya, sebagaimana Rasulullah
telah mendo'akan salah seorang sahabatnya yakni Sa'labah yang
semula miskin kemudian menjadi kaya raya. Akan tetapi hal itu
tidak beliau lakukan.
Nabi juga pernah ditawari oleh Tuhannya,
bahwa jalan raya yang berada di Makkah akan dijadikan
(dipenuhi) dengan emas untuknya. Akan tetapi beliau
menjawab, Tidak, ya Tuhanku, tetapi (aku memilih) kenyang
sehari dan lapar sehari (beliau mengucapkannya sampai tiga kali).
Atau dengan begitu, kalau aku lapar, maka aku akan selalu
merendah diri kepada-Mu dan akan selalu ingat kepada-Mu. Dan
apabila aku kenyang, maka aku akan bersyukur dan memuji-Mu.
(HR.At-Tirmidzi).
Rasulullah saw betul-betul mempergunakan
umur itu untuk kemaslahatan ummatnya. Ia memilih sehari lapar dan
sehari kenyang dari pada ia harus menyibukkan diri dengan
kekayaan. Sebab, kekayaan itu adalah fitnah, yaitu akan
menyibukkan seseorang untuk mengurusnya dan akibatnya akan
melalaikan ibadah kepada Allah swt.
Orang yang kaya bukan saja disibukkan
oleh dirinya sendiri karena mengurus kekayaannya itu, juga akan
disibukkan oleh gunjingan, cibiran, iri, dan cemburu dari orang
lain. Mereka yang tidak siap menerima amanah kekayaan, akan
menjadi mudah manik, hilang keseimbangan kemudian menjadi orang
yang mengasingkan diri, memusuhi dan dimusuhi manusia. Keadaan
akan menjadi lebih buruk bila hubungan komunikasi dengan Tuhan
terganggu dan rusak.
Harta merupakan fitnah utama bagi kaum
muslimin sepanjang zaman. Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya bagi setiap ummat itu ada fitnah, dan fitnah yang
ada pada ummatku adalah harta. (HR.At Tirmidzi, Ibnu Hibban
dan Al Hakim).
Tegasnya, bahwa seorang muslim itu harus
memiliki keyakinan bahwa akhirat itu lebih baik dari pada dunia
dan seluruh isinya ini.
--Iyus Kurnia